Tanggung Jawab Bersama: Peran Amerika Serikat dalam Pengelolaan Kecerdasan Buatan Menurut Media Pemerintah China

China dan Amerika Serikat membahas pengelolaan kecerdasan buatan
China dan Amerika Serikat menjadi dua negara yang disorot dalam pembahasan pengembangan dan pengelolaan kecerdasan buatan.

Washington, D.C. - China dan Amerika Serikat disebut memiliki kemampuan dan tanggung jawab dalam mengembangkan serta mengelola kecerdasan buatan (AI). Pernyataan tersebut disampaikan melalui unggahan akun Yuyuantantian, akun media sosial yang berafiliasi dengan stasiun penyiaran pemerintah China, China Central Television (CCTV). Bloomberg melaporkan pernyataan tersebut pada Minggu, 27 September 2026.


Unggahan itu muncul beberapa hari setelah Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu di Washington. Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu bilateral, termasuk perdagangan dan perkembangan teknologi AI.


AI Perlu Tetap Berada dalam Kendali Manusia


Dalam komentar yang dikutip Bloomberg, pandangan Xi menekankan perlunya China dan Amerika Serikat memastikan perkembangan AI tetap berada di bawah kendali manusia serta memberikan manfaat bagi masyarakat.


Pembahasan mengenai AI tidak hanya berkaitan dengan kemajuan teknologi. Komentar tersebut juga menyoroti pembagian manfaat dari perkembangan AI serta kebutuhan untuk mengantisipasi berbagai risiko yang dapat muncul dalam penggunaannya.


Risiko yang disebut mencakup kemungkinan penyalahgunaan teknologi dan kondisi ketika manusia kehilangan kendali atas sistem AI. Karena itu, pengembangan teknologi dan pengelolaan risikonya ditempatkan sebagai dua hal yang saling berkaitan.


China dan AS Sama-sama Mengembangkan AI


China dan Amerika Serikat merupakan dua negara yang aktif mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Persaingan teknologi antara kedua negara berlangsung bersamaan dengan pembicaraan mengenai keselamatan, tata kelola, perdagangan, dan investasi.


Dalam beberapa waktu terakhir, isu keamanan dan pengelolaan risiko AI juga menjadi bagian dari komunikasi antara Washington dan Beijing. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI semakin berkaitan dengan kebijakan teknologi dan hubungan antarnegara.


Media China Soroti Kesepakatan Bilateral


Selain isu AI, unggahan Yuyuantantian juga menyerukan pelaksanaan kesepakatan yang telah dicapai China dan Amerika Serikat.


Kesepakatan tersebut mencakup dukungan terhadap mekanisme konsultasi perdagangan dan investasi serta pengaturan pengurangan tarif timbal balik senilai sekitar 30 miliar dolar AS.


Kedua pihak juga disebut sepakat memperpanjang hasil yang diperoleh dari perundingan perdagangan sebelumnya di Kuala Lumpur. Media tersebut menyatakan bahwa lembaga pemerintah di berbagai tingkatan perlu menjalankan konsensus yang telah dicapai oleh kedua negara.


AI Masuk dalam Agenda Hubungan China-AS


Masuknya AI dalam pembicaraan tingkat tinggi China dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa teknologi tersebut kini menjadi bagian dari agenda bilateral yang lebih luas. Isunya tidak hanya menyangkut inovasi, tetapi juga perdagangan, investasi, keamanan, dan pengelolaan risiko.


Dalam pernyataan yang dikutip Bloomberg, media yang berafiliasi dengan pemerintah China menempatkan pengembangan teknologi dan pengelolaan risiko AI sebagai tanggung jawab yang perlu diperhatikan oleh kedua negara.


Pernyataan tersebut merupakan pandangan yang disampaikan melalui media pemerintah China dan tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya kesepakatan baru yang mengikat kedua negara mengenai tata kelola AI.


Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kebijakan dan pembicaraan resmi China serta Amerika Serikat mengenai keselamatan AI, perdagangan teknologi, investasi, dan mekanisme komunikasi terkait risiko kecerdasan buatan.

0 Komentar